• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
  • Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

    surat cinta anak jurusan fisika dan kimia

    Senin, 11 Juli 2011
    29 Mei 2010

    by alfiyandi in Artikel-artikel

    SURAT CINTA ANAK JURUSAN FISIKA

    Archimedes dan Newton tak akan mengerti
    Medan magnet yang berinduksi di antara kita
    Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2
    Ah tak sebanding dengan momen cintaku
    Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku
    Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum
    Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa
    Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…
    Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat aphelium
    Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku
    Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih
    Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas
    Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi
    Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya
    Energi kinetik cintaku = – mv~
    Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi
    hukum kekekalan di antara kita
    Lihat hukum cinta kita
    Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu
    Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang
    sempurna Dengan inersia tak terhingga
    Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya
    Inilah resultan momentum cinta kita

    SURAT CINTA ANAK JURUSAN KIMIA

    senyum manismu bagaikan NaOH pekat
    yang menetes perlahan dari buret Schelbagh
    menimpa HCl dalam erlenmeyer jiwaku
    ku aduk perlahan dengan magnetic stirrer
    membasakan PH suasana hatiku
    hingga Phenolptalin memerah.
    Ketika hatiku pengap bagai di ruang asam
    kau datang membawa kesegaran aroma asam butirat
    Tapi jangan khawatir cinta kita bisa dikatalis pake selen supaya
    cepat tumbuh.

    Masih ingatkah engkau waktu penetapan kadar protein?
    nah, selenium dan asam sulfat bisa membuat daya dobrak pemanasan
    makin oke..
    Jika masih belum puas dan percaya dengan keyakinan cintaku padamu,
    bawalah indikator phenol ptealin, celupkan di dasar hatiku, jika
    berubah warna, maka itu artinya cintaku palsu. dan itu tidak akan
    terjadi padaku
    Tapi adikku, jangan kau balas cintaku dengan keputusan serumit rantai
    DNA, apalagi jika aku tak punya enzim semangat untuk memutus
    rangkaian itu. Daripada kau buat rekayasa genetika di lab tanaman,
    lebih baik buat rekayasa cinta seperti yang dinyanyikan Camelia
    Malik…

    (-,-) huuft ribet euy..

    Gak Pake Judul, Note Lama nii

    Kamis, 23 Desember 2010
    “Perasaan kecewa itu muncul karena kita punya harapan terhadap sesuatu, dan punya harapan berarti karena kita mencintai sesuatu itu. Sebagai contoh kalau antum ditanya tentang kapan antum akan lulus lalu antum menjawab insyaallah tahun depan, tapi kenyataan di tahun depannya antum tidak lulus kemungkinan besar antum akan kecewa. Tapi kalau ditanyai jawaban antum kapan- kapan sajalah Ustadz, lulus Alhamdulillah tidak luluspun tak masalah, dan kenyataan membuktikan antum tidak lulus, kemungkinan besar antum tidak akan kecewa. Begitupun dengan jalan dakwah dan jamaah ini, banyak yang kecewa karena mereka punya harapan yang tidak mereka dapatkan di sini, tapi yakinlah keluar dari jamaah ini dengan alasan kekecewaan bukanlah cara yang bijak meskipun itu hak masing- masing kita untuk memilih jalan yang mana yang kita sukai. Karena antum tidak akan menemukan jamaah manusia yang akan bebas dari rasa kecewa dan mengecewakan, jangankan sekelompok orang, dua orang saja misalnya sepasang suami istri itu pasti pernah kecewa terhadap pasangannya,….. ” Itulah sedikit kutipan jawaban salah seorang Ustadz kondang dari Yogyakarta: Cahyadi Takariawan ketika ditanya oleh salah seorang ikhwah, hari ini dalam salah satu rangkaian acara Mubes FKI Rabbani di Mesjid Nurul Ilmiy. Tak terlalu banyak yang kusimak karena kedatanganku sudah sangat terlambat dari jadwal yang diagendakan. Sudahlah terlambat datang, eh pulang yang paling duluan, maklumlah kalau bareng dengan orang- orang yang punya banyak agenda, kita harus ngekor.
    Pelajaran no. 1: Jangan terlambat datang, jangan duluan pulang, dan jangan pergi dengan orang- orang sibuk. Trus jangan ngobrol waktu ustadz lagi berbicara di depan. ;)

    Pagi sebelum ke Unand atas itu kusempatkan diri untuk mengunjungi kampus karena ada janji dengan teman- teman kelompok buat membicarakan teknis ujian esok hari. Berangkat dari rumah jam 8 lewat dikit, jalan kaya bebek dan mampir jajan di minimarket bikin nyampe di kampus jam setengah 9, meski janjinya emang jam 9, tak apalah biar bisa ngintip simulasi ujian anak- anak CD *emang udah diniatin dari rumah*, meski sedikit kecewa karena sedikit sekali menambah ilmu dari menonton adegan lari- lari mereka. Jam 9 pun berdentang dari jam tangan Resti, tapi belum seorangpun teman kelompokku yang memperlihatkan batang tubuh mereka, yah wajarlah mana ada yang bakal ontime untuk ketemuan- ketemuan seperti ini, kuliah pun kita- kita sering telat kalaulah tidak ada ancaman dari dosen- dosen bakal mengunci pintu. Kutunggu sampai sepuluh menit sambil memaksakan diri untuk memiskol dengan pulsa yang sudah pake mukadimah ini. Lima menit berselang datanglah dua orang. Kami tunggu sampai setengah 10, nihil,,, sementara janjiku dengan Ni Ami kami akan sampai di Unand atas maksimal jam 10. Akhirnya dengan berat hati kupaksakan buat minta izin ke teman yang berdua yang sudah datang tadi, dengan tsiqoh saja terhadap apa hasil keputusan mereka dan berjanji untuk datang ke rumah salah seorang mereka buat menanyakan hasil kesepakatan. Di perjalanan di depan AB ku bertemu dengan dua orang teman lagi, mereka bertanya dan menahan kepergianku dengan nasehat- nasehat buat kepentingan kelompok, yah gak kebalik tu bukannya aku sudah datang dari tadi *dalam hati*. Ya sudah karena dasarku memang sedikit agak baik kuturuti aja dengan janji akan memulai rapat langsung tanpa menunggu yang 5 orang lagi yang belum datang itu., tapi tetap aja juga molor mulai rapatnya,,hhe. Jam setengah 11 kupaksakan diri untuk minta izin dari kesepakatan- kesepakatan itu karena melihat tampang- tampang orang yang menungguku: ada Resti dengan ketawa terpaksa, si Nissa yang sudah ngoceh2 dan si Ni Ami yang sok2 sabar nunggu, begitu mengenaskan. Afwan yo Ukh,, dg tampang seperti biasa: tak bersalah.
    Pelajaran no.2:Menunngu teman kelompok itu bikin tua dan bikin tampang mengenaskan dan bikin telat nyampe Unand atas.

    Pulang dari Unand atas berniat ke Mardhatillah buat menemanin Resti nyari buku yang katanya buat tugas mingguannya, ini rute sebelum ke Mardhatillah: turun angkotà rumah makan: beli sambalà tempat jus:beli jusà mampir rumah: sholat dan makan,, baru ke Mardhatillah. Tapi sayangnya buku yang dicari Resti sudah habis, ya seperti biasa liat- liat buku yang lain, dan aku sangat tidak tahan melihat yang namanya buku, mata berbinar2 dan mulut komat kamit dibuatnya, ya sudah ku beli 1 buku tebal karangan Ustadz Mustafa Dieb dan 1 jilbab yang katanya Uni bagus,, sedangkan Resti tak jadi beli apa- apa* siapa yang nemenin nih namanya*, yah habislah uangku.
    Pelajaran no.3: Nemenin teman belanja bikin uang habis.

    Selesai itu kami berdua saja nih ceritanya:aku dan Resti berniat lagi ke kampus memantau perkembangan ujian CD,, nyampe di sana sepertinya ujian sudah hampir selesai, suara Ibu2 Dosen itu sudah mulai terdengar,, ya sudahlah kita nunggu teman yang lain saja buat nanya2 perkembangan ujiannya. Duduk di kursi PSIKM, sedikit sejuk dibandingkan udara panas kota Padang, karena ada AC nya,,hehe,, sudah segaran keluar lalu duduk di bangku2 dekat GH itu, Diian dan Meta mengampiri kami menyampaikan banyak yang remed dan membocorkan trik2 soal besok: untuk triase itu tidak ada pasiennya yang tag hijau, hati- hati baca soal dan soal yang dikasih 6 buah, tidak perlu khawatir, insyaAllah kalian bisa.,,hhe makasih Meta jo Diian.
    Pelajaran no.4: Kita dibolehin pake rok buat ujian triase besok dan kalau bawa sunblock, minta ya,,hhe..

    Akhirnya malala hari ini selesai juga, sudah sore dan sepertinya sudah boleh pulang. Berpisah sama yang lain dan kuhela langkah2 kecil ini mengitari jalan Jati yang sudah 3,5 tahun kutempati, sedikit membosankan melihat pemandangan yang sama, bahkan tukang2 bangunan FK ini, sebelum gempa pun juga sering merombak2 pagar samping itu, padahal tak rusakpun, tak apalah mungkin ada rejeki mereka dari dana pembangunan FK ini. Eh, sejenak mataku tertuju pada sosok2 berbeda di sepanjang perjalanan Jati ini, Bapak2 tua penggali tanah,, karena tak lagi buru2, kusempatkan berbicara sebentar dengan salah seorang mereka,, katanya penggalian buat pemasangan kabel Telk*msel *seperti isi statusku*, mereka kelihatan sangat capek,, tapi aku yakin semua ini mereka lakukan bukan untuk mereka tapi untuk anak- istri mereka yang sedang menunggu di rumah, mungkin juga dengan satu niat mereka ingin anak2 mereka jauh lebih baik dari mereka,, bisa sekolah dan syukur2 bisa jadi PNS dan kerja di kantor2. Ah, jadi teringat Ayah dan Ibu, ternyata aku sudah lama tak pulang, terharu sejenak dan smakin membulatkan tekad, aku akan pulang Senin ini, insyaAllah. Semoga Allah selalu menjaga dan menyayangi Ayah dan Ibu, memberi kesehatan, usia yang berkah dan bisa melihat kesuksesan anak2nya kelak,, aamin ya Rabbal’a;amiin..
    Pelajaran terakhir no.5: InsyaAllah aku akan pulkam hari Senin.

    INSYAALLAH

    Semua itu berproses, kepompong yang menggelikan itu butuh proses agar bisa menjadi kupu- kupu yang lucu, kita sekarang yang sudah dewasa dan mulai sedikit rapi ini juga berproses dari kita yang dulu bayi yang tidak bisa ngapa- ngapain, sampai anak- anak yang masih ingusan, sampai remaja yang malu- maluin, he he.. begitupun dengan alur berpikir kita, butuh proses agar bisa menjadi matang. Toh dulu kita waktu anak- anak mana pernah berpikir dan mempermasalahkan uang di saku kita yang tidak ada, atau wajah kita yang bakalan item kalau panas- panasan, atau baju kita yang norak banget mana pernah kita ambil pusing.



    Dulu, sewaktu disuruh memilih jurusan ini saya hanya berpikir jadi dokter umum saja pun cukuplah gak perlu embel- embel lain, kerja di pedesaan dan pedalaman pasti sangat mengasyikkan, tanpa berisik, tanpa polusi tanpa banyak persaingan iri dengki dan fitnah,, ckckck hidup aman senjota adil sejahtera bersama keluarga cukuplah, kalaupun mau nambah embel cukup hanya embel Hj saja. Tapi Itu dulu. Di awal masuk jurusan ini pikiran pun mulai sedikit terbuka, apalagi dengan slogan PBL yang selalu dielu- elukan itu Life Long Learning,, sepertinya ngelanjutin sekolah pasti lebih seru, keren aja guru- guru saya yang konsulen itu, lebih berwibawa, disegani, lebih keren, lebih punya kuasa dan tentunya lebih banyak uang,, wkwkwk. Jadilah saya melirik spesifik apa yang bakal saya pilih nanti. Saya pantau satu- persatu,, hohoho pilihan pun jatuh ke tiga pilihan teratas: Obgyn, Bedah dan Interne. Subhanallah…. Keren- keren…. Yah salah satu alasan memilihnya ya tentu dari hasilnya nanti, saya lihat yang banyak kepake sepertinya jurusan ini. Obgyn,,, sebenarnya sempat kepikiran dari dulu- dulu, ada tujuan mulia sebenarnya, saya ingin menambah peluang calon ibu untuk tidak melihatkan auratnya ke dokter laki- laki,, iya sih kalau udah mau melahirkan katanya si calon ibu gak bakalan mikirin macam lagi. Yang dipikirin pasti cuma bagaimana cara mengeluarkan sang calon bayi dengan selamat,, tapi kasihan juga suaminya ya,, pasti gak rela banget istri terkasihnya ‘dipegang’ sama laki- laki lain. Masih kebayang sama saya waktu Kakak tertua saya melahirkan anak tertuanya di spesialis kandungan, mau gak mau terpaksa harus mau, dokter spesialis di kampung kami yang ada cuma laki- laki sedang Kakak gak bisa melahirkan secara normal karena CPD,, oh aamiin ya Allah.. Pilihan ini bertahan sampai tahun tiga. Meski pilihan kedua digantikan dengan pilihan Anak. Bedah?? Saya harus mencoba berpikir realistis bin pesimis, bagaimanapun saya wanita,, bukan pula wanita yang gesit dan bukanlah wanita yang tangguh sepertinya untuk di Bedah. Yah susunan pun berubah menjadi Obgyn, Anak dan Interne. Anak? Ya, selain karena saya suka sama anak- anak, ternyata saya juga suka boneka (loh? He he jaka sambung bawa golok),, mereka lucu…. Dan ntar kalau meriksa pasiennya wudhu saya gak batal,, he he.. Makanya interne tetap menjadi pilihan ketiga setelah Anak. Selain itu obat buat anak- anak itu cuma dikit, untuk sehari obat yang kalau orang dewasa bisa habis 3- 4 tablet sama anak cuma 1-2 tablet,, kan lumayan tuh hitung- hitungannya,, he he he… Pilihan ini pun bertahan sampai saya memasuki gerbang perumah-sakitan,, Alhamdulillah Allah masih memberikan saya hidayah untuk selalu berniat baik,, lumayanlah.. Tiga siklus yang saya lalui, membuat saya sedikit agak matang dari saya yang dahulu *angus mungkin ya,, karena sering dibentak,, hehe*,, kematangan dan pengalaman di lapangan sedikitnya membuat pilihan saya kembali berubah,, ternyata kuliah lagi di siklus gede itu sangat sibuk bin capek *sepertinya*,, dinas siang malam,, hoho,, dan tak satu dua kasus saya liat banyak anak- anak mereka yang dititipin ke TPA (Tempat Penitipan Anak) atau ditinggal di rumah bersama pembantunya,, tadipun juga ada pasien anak, anaknya ‘yang sekolah lagi’ yang menderita penyakit kulit karena dititipin di TPA ketularan teman- temannya *iya sih tergantung pribadi juga bisa bagi waktu atau gak*. Tapi saya gak maulah ntar nitipin anak ke orang lain,, pengennya saya yang mendidik dan mengasuh sendiri,,, he he,, kalaupun terpaksa memilih mungkin cukuplah dititip di rumah saja, n tetap yang mendidiknya mesti kita orangtuanya. Karena itu saya mulai memikirkan kalau diizinkan melanjutkan sekolah lagi saya akan mempertimbangkan untuk mengambil siklus kecil saja, yang sedikit atau tidak ada jadwal dinas malamnya,, he he…. Aamiiin… Itu pikiran saya sekarang. Wallahu’alam esok atau lusa pikiran saya kembali berubah sesuai pengalaman yang saya dapatkan di lapangan. Hanya berharap,, ketika masanya nanti tiba, saya ingin mendapatkan pilihan yang terbaik dari Allah atas semua pilihan hidup yang saya jalani. Tetap semangat buat belajar. “Allah akan mengangkat derajat orang- orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu beberapa derajat (Mujadillah:11)”.



    Padang, 19 Oktober 2010

    =Detik- detik menyambut ujian Kulit=

    Tetap semangat dan tetap persembahkan yang terbaik ^^

    

    Azzam Mencari Jodoh

    Akhirnya sampai juga di titik bosan, capek, males, putus asa. Semua rumah sekitar Jati Sawahan sudah saya preteli, hasilnya tetap nihil, ada yang saya suka sudah ada yang punya, dianya suka sayanya yang gak suka,, sudah seperti tukang sensus mendata rumah saja.

    Sebenarnya niat pindah sudah dari dulu, di saat Kakak saya yang menjadi alasan saya untuk tetap tinggal di sini akhirnya diterima menjadi PNS di kampung., lebih kurang 2 tahun yang lalu. Tapi taulah Ayah seperti apa, Beliau tidak suka hal- hal yang menurutnya remeh temeh itu dipermasalahkan, emang kenapa kalau tetap di sana? Kalian sudah punya KTP di sana, tetangganya baik- baik, sudah saling kenal, Ayah gak suka pindah- pindah tanpa alasan, sekali pindah kalian akan pindah terus tu, belum tau juga lingkungan baru kalian akan seperti sekarang,, ntar kalau gak suka mau pindah lagi gitu?,,,bersabar aja di sana, bentar lagi Adik kan tamat insyaAllah blablabla,, masih ingat omongan Ayah waktu saya pulang buat minta izin pindah, sengaja nyediain waktu buat pulang hanya untuk ngomongin itu biar maksud dan tujuan tercapai kalau ngomonginnya langsung. Yah, Adik itu tipe belajarnya diskusi, jadi kalau sendirian aja di rumah ntar malah tidur, begitu jawabku.. ah semua cara sudah dicoba biar bisa pindah. Yaudah main aja ke rumah teman, atau ajak teman ke rumah, pasti lebih bijak. Yaaah... (_ _”). Padahal niatku baik, aku mau masuk wisma., sementara Kakak2 n akhwat wisma sudah capek ngajak2,, siapalah yang gak ingin kumpul bersama kalian, setidaknya saya bisa untuk terus diingatkan kalaupun toh tak bisa mengingatkan nantinya, ah.. Ayah memang sedikit keras apalagi untuk sesuatu yang sebenarnya masih bisa diatasi menurut Beliau, Bliau tidak suka sama yang plin-plan dan terkesan aksesoris, saya tau tujuan Bliau sangat baik kalau dipikir2 sebenarya omongan Ayah gak salah.. Tapi begitulah Ayah,, keras dan disiplin,, sedikit banyaknya mempengaruhi watak saya,, meski begitu tetap Bliau gak pernah gengsi buat masak di dapur gantiin Ibu,, nyuapin kami makan meski udah kuliah,, atau beliin kami hadiah,..,, jadi kangen sama Ayah,, makanya saya juga gak terlalu kekeuh dengan pilihan saya untuk pindah kalau udah seperti ini. Tapi berusaha tetaplah,, Jadinya dibujuklah Ibu,, hoho saya taulah Ibu bakal jawab apa,, gitu ya? Ya gak papa,, pindah aja asal bisa bikin lebih baik,, Ibu percaya sama Adik. Kalau Ibu ni kalau dibilang sama teman2 malah suka,, apalagi dibilangin ikut ini itu di kampus,, senang banget Bliau tu,, haha,, dulu waktu SMA ada teman ngajak main2 saya gak mau,, malah Bliau yang nyuruh2,, hehe.. Hoho,, Ibu, ibu.. meski sedikit cerewet nih Ibu, beliau sangat menyayangiku, semuanya diiyain dan dipercayain,, dari dulu tu saking percayanya, bliau gak mau ngajarin saya di rumah, nunjukin PR,, padahal Bliau guru,, ha kan? “Tapi Bu gak boleh sama Ayah”,, ya ntar Ibu bujuk ayah ya,, *senang* Tapiiii,, ya gitu Ibu cuma bisa membelaku di belakang Ayah, haha mana pernah menang argumen di depan Ayah,, jagoan sayalah ngomong, bahkan udah pake adegan tetesin airmata segala pun tetap gak dikabulin..

    Itu sekitar 2 tahun yang lalu. 1 Bulan terakhir ini dapat pemberitahuan dari ibu punya rumah kalau rumah untuk tahun baru akan bliau pakai bersama keluarga karena rumahnya yang lama bakal digusur. Hoho,, senangnya... langsung telepon Ayah.. Haha,, akhirnya boleh pindaaah..... yaiyalah mesti pindah kaliii... ^^

    Hoho langsung kontak adek2 wisma ada yang kosong? Wah kak udah penuh kan kak,, taun baru, alhamdulillah adek2 2010 banyak yang masuk kemarin ni,, ckckckkkkkk. Saat ditawarin sayanya yang gak bisa,, saat saya nawarin diri dianya yang gak bisa.. Pikir- pikir lagi, mungkin ada hikmahnya saya gak bisa masuk wisma waktu di klinik ini,, bisa jadi kedatangan saya malah mengendorkan semangat adek2 yang lagi ghiroh2nya,, maklumlah gimana kita kalau udah klinik ni,, postdinas saja terkadang menjadi alasan untuk tidak ikut agenda2 jamaah,, apalagi kalau ada case, bst, refrat atau yang lainnya.. Jadi inget dulu sempat cerita sama senior, Bliau keluar dari wisma hanya karena alasan itu,, semoga memang itu maksud Allah.. *nyenang- nyenagin hati*

    Sejak saat itu petualangan mencari rumahpun dimulai,, saya menemukan 2 orang saudari yang bisa dibujuk2 buat pindah dari kosannya,, siapa lagi kalau bukan Ami dan Vira.. hehehee.. Bersama mereka2 saya berpetualang mencari rumah impian. Ada yang kami suka, sudah ada yang booking atau kemahalan* masa 10 juta satu kamar,, enaak aja,, gak mikir dianya ngomong nih,, hhee*. Ada juga yang saya suka,, salah satu diantara mereka berdua tu yang gak suka. Kalau Vira gak boleh sama orangtuanya tinggal di lantai 2,, mesti kudu harus dan wajib lantai satu. Kalau Ami meskipun kontrakan tetap harus ada ibu kosnya. Cuma saya yang ga neko, yang penting bisa pindah bareng,, cukup.,, ckckck.. 

    Semua rumah kami preteli,, mulai Jati 3, Jati4, Jati5, Abdul Muis, depan RS, Jati 2, Jati 1, Sawahan 2, Sawahan Dalam, Jati Rawang, PJKA,, ckckck kaya petualangan Sherina saja setiap sorenya hampir sebulan ini. Ada juga yang udah dua sampai tiga kali kami kunjungi saking suka sama rumahnya, berharap ada yang tiba- tiba pindah, mungkin karena diusir, sakit berat atau meninggal.. iyalaah otak kami nih,, hehehee... Pengalamannya lucu- lucu juga,, ada yang jawab langsung gak ada, ada yang siap bilang gak ada langsung ngasih tempat lain yang mereka tau,, ada yang sangat berharap kami di sana,, tapi yah kami gak suka. Kemarin itu ada rumah di Jati3 sebenarnya saya suka banget,, dari harganya yang lumayan sesuailah trus dekat lagi kan,, tapi Ami gak suka alasannya sih pagarnya cuma separo trus gak ada tempat jemuran.. *yah,, itu kan bisa diusahain Un,, ckckck* tapi begitulah,, katanya cari yang lain dulu,, kemarin kami balik lagi ke sana sudah ada yang nempatin,, ckck lagi. 

    Trus ada juga yang kami semua suka, malah udah bilang fix tinggal bayarin uangnya besoknya,, tapi tetangga saya dengar dan bilangin kalau rumah itu pernah kemalingan dua kali trus pergaulan anak yang punya rumah bebas aja sering laki- laki masuk,, hhiiii,, besoknya kami langsung ke sana minta maaf batalin dengan alasan orangtua belum bolehin pindah karena masih musim2 gempa,, hohohooo...ampuh juga..

    Trus ada juga rumahnya Bapak2, udah tua, Bliau pengurus salah satu mesjid,, Bapak ini sepertinya pengen banget kami tinggal di sana,, Bliau cuma tinggal sendiri dan rencananya kalau kami tinggal di sana Bliau bakalan pindah ke tempat anaknya,, rumah ini dipercayakan ke kami,,, tapiiiii... Bapaknya obsesif kompulsif perfeksionis paranoid,,, ckckck.. Bayangin nih ya,, kami nungguin Bapak ni di kamar mandinya sampai setengah jam,, kata Bapak yang bekerja di rumah Bliau,, Bapak itu memang seperti itu,, suka lama di kamar mandi,,, sholat,, wudhu smuanya lamaa.. trus dengan semangat berkobar dan 45nya Bapak ni memamerkan rumahnya,, Bliau sudah rancang smuanya,, ntar kalau kami pindah kami gak boleh bawa apa2 kecuali pakaian dan buku,, untuk rak, lemari semuanya sudah saya rancang kata Bliau,, kalau kalian bawa lemari ke sini ntar gempa kalian ketimpa,, makanya nih rencanaya saya bikin lemari di gantung sm paku kuat,, trus mejanya bisa dimasuk2n biar kalau mau lari pas gempa perut kalian gak nyangkut,, gitulah kata Bapaknya,, n saya sudah bikin nih dindingnya beton,, di lantai 2 sudah saya bikin pelampung,, ntar kalau terjadi tsunami kalian bisa lari ke atas,, tangga ini saya bikin dari besi yang kuat.. ckckckck.. oia untuk dapurnya ada 2 ni,, kalian bisa manfaatin,, kompor gas sama minyak gak boleh berdekatan ntar yang minyak ini bisa nyambar gas,, mleduk,, sumber air ada 2 saya bikin satu dari PAM satu lagi sumur Bor,, biasanya abis gempa air itu susah makanya saya wanti2 dari sekarang,, o ini lagi di teras ini saya bikin kawat dindingnya,, ntar kalau pas gempa kalian lari insyaAllah gak bakal jatuh ni tembok,, udah dibikin tahan,, blablabla,,,ckckck ya Allah hampir 1 jam kami mendengar ceramah Bapak ni,, kalau bukanlah karena menghormati orangtua mungkin kami udah lari dari tadi... enak sih rumahnya,, tapi bisa2 tinggal di rumah ini bukannya nyaman malah kepikiran gempa dan tsunami terus,, yah dengan basa- basi kami bilangin minta izin ortu dulu.. *alasan ampuh nih ternyata.. :D

    Masih banyak tuh kisah unik lainnya,, ada yang karena kami kepeleset di rumah tu jadinya langsung ilfill meski bagus,, ada juga yang sebenarnya suka tapi kekecilan kalau dibanding perlengkapan kami yang sudah 4 tahun di Padang,, kebayanglah kan.... ada juga yang kami minat tapi ibunya gak ngontrakin,, ada juga yang tinggal cuma 1 kamar,, pokoknya banyak bangetlah ya,, bikin capek, pusing plus putus asa nyari rumah ni.. Coba kalau kami punya uang banyak,, pasti gak kaya gini ni,, kami bangun langsung tu rumah,, wkwkwk.. aamiin..

    Kaya filmnya KCB aja pencarian kami ni,, kaya Azzam mencari jodohnya. Semoga, karena udah capek dalam pencarian rumah seperti ini,, semoga untuk urusan jodoh Allah menjadikannya lebih mudah,, kompensasinya donk Allah,, hehee.. aamiin ya Rabb ^^

    Masih berharap sampai akhir tahun saya dipertemukan dengan rumah terbaik pilihan Allah... Doain yaa... ^^

    Padang, 23 Desember 2010


    Tak Perlu Alasan untuk Mencintai Sesuatu

    Hari ini menjelang tutorial kami berakhir bersama preseptor, sang preseptor menanyakan mengenai cita- cita kami nantinya kalau sudah menjadi dokter umum. Banyak juga yang ragu untuk menjawab, secara mungkin belum kepikiran kali ya lagian kami baru 4 siklus yang berjalan, wajarlah ya, normal.. yang aneh sih saya dengan lantang dan sedikit malu- malu (in) langsung menjawab: “Kalau dizinin sama suami InsyaAllah mau mengambil Bedah Bu^^”,, trus Ibunya nanyain lagi mungkin heran plus rada- rada gak percaya dengan pendengarannya, “kenapa?”,, saya jawab sekenanya: “Seru Bu,, saya suka:D”,, Ibunya nanyain lagi: “Kenapa seru dan suka?”,, saya jawab dengan penuh penghayatan,, wkwkwk,, “Tak perlu alasan buat kita untuk menyukai dan mencintai sesuatu”,, hehehee,, heraan...
    Sebenarnya gak yakin- yakin juga sih dengan jawaban saya,, teori tak semudah praktik, idealita kadang tak sama dengan realita,, itu yang namanya masalah: kesenjangan antara harapan dan kenyataan,, yah,, harus diselesaikan dengan Problem Solving Cycle nih melalui pendekatan PDCA: Plan, Do, Check, n Action,, ckckck PH bgt.

    Itulah ya Allah,, tapi apapun yang terjadi nanti hamba ingin mendapatkan Problem Solving terbaik dari Engkau dari pilihan- pilihan yang Engkau berikan.. aamiin...